Minggu, 05 Januari 2014

Menunggu... Tapi Bahagia (2)

"Sayang, sudah sore. Mau pulang sekarang? Biar aku antar," ajakmu.

Aku mengangguk, mengiyakan.
"Sebentar ya sayang, aku ganti pakaian dulu," belaimu hangat di pipiku.
Aku tersenyum.

Tak lama, ibu dan kakak pulang ke rumah.
Dan aku berpamitan untuk pulang.
Mereka ramah, sangat ramah terhadapku.
Aku sedikit merasa sudah mulai dianggap di rumahnya. "Terima kasih."

Selama diperjalananku pulang bersamamu, tak sabar kunantikan moment untuk dapat membuka kotak hitam pemberianmu. Sungguh.
"Kamu yakin mengantarku ke depan rumah? Tidakkah cukup sampai depan gang?", raguku.
"Aku gak tega sebatas mengantarmu ke depan gang. Sampai depan rumah saja ya sayang. Ini belok kemana? Kanan atau kiri?" tegasmu ingin mengantarku pulang.
"Hmm, kiri sayang..." aku pasrah.

Tiba tepat di depan rumah, adzan magrib berkumandang.
"Sekalian masuk ke dalam. Kamu sholat magrib dulu di rumahku, baru nanti pulang ya," saranku.
"Sepertinya aku langsung pulang. Di dalam ramai sekali, aku masih malu," tolak lembutmu.
"Tak apa, ayo masuk ada mama, papa, dan keluarga kakakku. Bukankah lebih tidak enak kalau kamu sebatas depan pagar?" aku memastikan.
"Iya...", kamu luluh.

Bersalaman, mengobrol ringan, lantas kamu diajak makan malam bersama kedua orang tuaku.
Aku memaksamu untuk mengiyakan.

Makan malam selesai, momentku tiba untuk membuka kotak hitammu.
Taraaa.... Sebuah jam tangan dengan..... sepetik bunga edelweis, ya bunga abadi.
"Sayang, terima kasih... ini bagus. Tapi mungkin kebesaran. hehehe"
"Iyaa? Nanti dikecilkan saja ya."
"Makna bunga ini apa, sayang?" tanyaku seolah polos.
"Kamu puitis, dan kamu pasti paham betul sayang maknaku untukmu."

KEABADIAN. Harapan kedua insan dengan keseriusan hubungan.

0 komentar:

 
Copyright © Daily of Love with Guelagi