Sendainya kamu tau...
Kala itu, aku yang selalu menjaga jarak radar di antara kita.
Kala itu, aku yang selalu menandai radarmu meskipun dalam jarak yang masih cukup jauh.
Kala itu, aku yang memindai dinding setipis kapas yang sekiranya akan membentangkan jarak.
Kala itu, aku yang selalu mengusahakan dirimu ada untukku, demikian sebaliknya.
Kala itu, aku yang berharap hubunganmu dengannya tak kembali terajut.
Kala itu, aku yang sangat menginginkan hubunganmu dengannya membaik, tapi bukan untuk hubungan yang kembali serius.
Kala itu, aku bukan sosok yang pelik mata atas hubunganmu dengan sang mantan.
Kala itu, aku yang mengagumi setiap gerak-gerik tingkahmu dalam rima langkah setiap bersamaku.
Kala itu, aku yang bermimpi untuk dikagumi olehmu kelak.
Kala itu, aku pula yang sangat berharap kelak aku dan kamu bersama.
Tapi nyatanya hal yang terjadi beberapa bulan silam, kembali bergejolak di benakku.
Dan sayangnya gejolak itu kembali merenggut lubuk hatiku, di masa-masa ku sedang bersama orang lain.
Yang kulihat saat ini, kamu yang terlihat tegar terhadap hubungan yang sedang aku jalin saat ini.
Aku menghargaimu, semoga kamu demikian.
Tetap berusaha untuk mencari sosok pendamping terbaik ya..
Karena percayakan bahwa 'Pasangan Tulang Rusuk Tak Pernah Tertukar'.
Jumat, 15 Agustus 2014
안녕 친구 :))
안녕하세요...
조는 라니 임니다
Annyeong haseyo
Joneun Lani Imnida :))
Ceritanya lagi coba2 keyboard pake hangul...
Masih punya mimpi untuk bisa 2 minggu berkunjung ke Korea Selatan, dalam waktu 2 tahun dari sekarang.
Semoga bisa terwujud. Aamiiin :"))
조는 라니 임니다
Annyeong haseyo
Joneun Lani Imnida :))
Ceritanya lagi coba2 keyboard pake hangul...
Masih punya mimpi untuk bisa 2 minggu berkunjung ke Korea Selatan, dalam waktu 2 tahun dari sekarang.
Semoga bisa terwujud. Aamiiin :"))
Rabu, 13 Agustus 2014
Harapan dan Ego
Aku mau A.
Aku tidak A, tapi B.
Aku lebih memilih C.
Tapi Aku suka D.
Aku pikir lebih baik E.
Tidak, jangan E, mengapa tidak F??
Demikian sampai ide ke-Z.
Hufh, rumit. Terlalu banyak keinginan yang tidak didasari pada khalayak ramai.
Padahal, yang menerima hasil akhir bukan segelintir orang tapi untuk sekian banyak umat yang tergabung dalam satu forum.
Harapan yang berlebihan.
Mereka terlalu memikirkan ego.
Hingga tak pernah ditemukan titik temu untuk keputusan umat.
Pengendali forum menyerah.
Dan mungkin kelak takkan menyuarakan kembali keputusannya.
Label:
Sepenggal Tolak Ukur
Selasa, 12 Agustus 2014
Ini Bukan Kamu yang Aku Kenal
Selang 3 hari setelah talakku jatuh padamu.
Maaf aku tidak menghubungimu sama sekali setelah keputusan itu sudah sangat bulat.
Bukan aku melupakanmu begitu saja.
Tapi itu salah satu bentuk penghargaan diri untukmu, masa laluku...
Seketika, pesanmu muncul.
Jelas saja aku langsung merespon.
Perasaanku tidak enak kala itu. Pasti terjadi sesuatu. Ah, semoga tidak.
Handphone-ku berdering, namamu kembali muncul di layarku.
Sepertinya sesuatu yang menyakitimu terjadi.
Ternyata benar.
Isak tangis, dan desah pilumu pecah setelah kamu menjelaskan kronologinya.
Ini seperti bukan kamu yang aku kenal sebelumnya.
Masalahmu ternyata besar.
Maafkan aku tidak hadir untuk sekedar menghapus perihmu.
Bukan berarti aku begitu tega padamu.
Aku iba... Aku prihatin...
Aku pun turut sedih, dan nyaris pula meneteskan air mata atas kejadianmu.
Saat -saat seperti itu, justru aku sangat merindukannya.
Sangat rindu akan keluhmu, baik itu sedikit maupun banyak.
Aku masih sangat peduli padamu.
Berharap demikian pula kamu.
Ingin sekali berada di dekatmu sekedar untuk mengupas luka yang menempel pada ingatanmu.
Meskipun rasanya sulit untuk kembali.
Tapi aku masih ingin selalu ada untukmu...
Percaya itu...
Label:
Sepatah Puitis
Lepas Ikatan dengan Baik
Aku memang bukan untukmu, karena aku belum baik untukmu.
Katanya, seraya menunduk pasrah.
"Aku salah? Maaf. Bukan maksudku selalu mengungkit kesalahan dan ketidaksempurnaanmu."
Putus.
Tak ada amarah sedikitpun kala itu.
Aku lelah. Aku terus mengeluh terhadap sikapmu yang tak pernah berubah.
Bahkan aku merasa terus ditarik ulur oleh sikapmu yang kadang baik, dan kadang buruk, sangat buruk.
Aku bukan malaikat. Apalagi Tuhan yang Maha Sempurna.
Bukan maksudku selalu menuntut kesempurnaan darimu.
Hanya keinginan untuk selalu Baik-baik saja dalam hubungan yang terjalin.
Hubungan tidak baik, mungkin bisa menjadi bumbu untuk pengalaman kita selanjutnya.
Tetapi, tidakkah itu baik setiap hari?
Aku rasa tidak.
Maaf, aku memilih untuk menyerah.
Aku butuh sendiri tanpa amarahku padamu.
Aku butuh waktu untuk introspeksi diriku. Mungkin demikian pula kamu.
Toh, kalaupun berjodoh nantinya, aku berharap Tuhan menyatukan kita kelak dalam keadaan yang baik pula, bahkan mungkin jauh lebih baik, menurutku juga menurutmu.
Jika memang tidak berjodoh nantinya, semoga kita terjaga bersama sosok yang terbaik di mata Tuhan.
Aamiin
Label:
Sepatah Puitis