Maaf aku tidak menghubungimu sama sekali setelah keputusan itu sudah sangat bulat.
Bukan aku melupakanmu begitu saja.
Tapi itu salah satu bentuk penghargaan diri untukmu, masa laluku...
Seketika, pesanmu muncul.
Jelas saja aku langsung merespon.
Perasaanku tidak enak kala itu. Pasti terjadi sesuatu. Ah, semoga tidak.
Handphone-ku berdering, namamu kembali muncul di layarku.
Sepertinya sesuatu yang menyakitimu terjadi.
Ternyata benar.
Isak tangis, dan desah pilumu pecah setelah kamu menjelaskan kronologinya.
Ini seperti bukan kamu yang aku kenal sebelumnya.
Masalahmu ternyata besar.
Maafkan aku tidak hadir untuk sekedar menghapus perihmu.
Bukan berarti aku begitu tega padamu.
Aku iba... Aku prihatin...
Aku pun turut sedih, dan nyaris pula meneteskan air mata atas kejadianmu.
Saat -saat seperti itu, justru aku sangat merindukannya.
Sangat rindu akan keluhmu, baik itu sedikit maupun banyak.
Aku masih sangat peduli padamu.
Berharap demikian pula kamu.
Ingin sekali berada di dekatmu sekedar untuk mengupas luka yang menempel pada ingatanmu.
Meskipun rasanya sulit untuk kembali.
Tapi aku masih ingin selalu ada untukmu...
Percaya itu...
0 komentar:
Posting Komentar