"Sayang, kamu sudah bangun? Aku sudah siap, segera jemput ya..."
Pesan singkatku untuknya pagi itu.
Dua jam berlalu tanpa balasan apapun darinya. Kesal, sedikit.
Aku sudah terbiasa dengan sikapmu yang seringkali seperti ini pada saat membuat janji padaku.
Aku memakluminya, terlebih ini merupakan hari liburmu.
Tepat 123 menit, ponselku berdering menerima balasanmu.
"Maaf sayang, maaf. Ponselku mati sejak semalam. Aku baru saja bangun. Kamu dimana sekarang?", tanyamu polos.
Sentak aku beralih fokus pada jam tanganku yang kala itu menunjukkan pukul 10.11.
"Fiuh, terima kasih sayang telah membuatku menunggu sekian lama, untuk sekian kalinya," batinku.
10 menit kemudian kamu datang menjemputku, karena rencana pagi (siang) itu memang menemani ibumu.
Ya, first impression terhadap orang tuamu memanglah penting, tapi tidak membuatku rumit atas penampilan diri yang dibuat sedemikian sempurna. Cukup rapi dan apa adanya, pikirku.
Dengan mengenakan kaos model tribal dominan merah maroon dan accessoris coklat di kepala, rasanya cukup.
Melangkah menuju rumah sederhanamu pagi (siang) itu. Agak ragu. Namun, kamu meyankinkan bahwa penghuni rumah sangatlah ramah.
Ya, kepercayaan diriku bertambah. Mencoba masuk dan mengucapkan salam.
Obrolan berawal cukup renyah dan sepenuhnya apa adanya. Sadar bahwa aku merupakan tokoh baru dalam rumah sederhana itu setelah kepergian ayahandanya, aku membatasi diri untuk tidak ceriwis.
Kamu pun memberikanku ruang untuk sesaat bercengkrama dengan seisi penghuni rumahmu. Ibu, kakak dan keponakan cantikmu.
Lama bercengkrama, mereka berpamitan keluar rumah untuk beberapa saat. Hal itu yang membuat obrolan mata ke hati sebatas 2 tokoh pun meraja.
Kamu ungkapkan seluruh kesah dan bahagiamu tentang kenangan dalam rumah sederhana ini.
Aku paham betul rasanya.
Sesaat kamu meninggalkanku di ruang tamu. Sendiri.
"Sebentar ya sayang...", senyummu memastikan segera kembali.
Aku terdiam. Dan tak lama kamu kembali.
"Ini sayang. Ini ambil ya. Jangan dibuka sekarang ya..."
Kotak hitam tanpa bungkus kado itu sampai di tanganku.
Senyummu dan pemberianmu itu penuh makna, sayang.
"Terima kasih," peluk hangatku sampai di dadamu.
"Iya sayang, jangan ada bagian yang dibuang ya dari dalamnya."
-----------------------Continue-------------------------------------------------
0 komentar:
Posting Komentar