Bukan lagi karna kisah galau yang terus terungkap di bibir dan menguak menjadi alunan nada dengan segala bentuk ketidakpastian dan spekulasi berbeda terhadap pendengarnya, sebut saja suara. Suara hati yang terkadang tak sinkron dengan suara bibir yang terucap, acap kali dicap sebagai suatu kemunafikan.
Ya, tak ingin panjang lebar terhadap suara yang menggelitik telinga yang menyadarkan untuk berkata sebenarnya. Dari lubuk hati yang mungkin hampir muncul ke permukaan, setiap sosok manusia netral selalu membutuhkan tanggapan dengan pandangan berbeda dari berbagai aspek. Pribadiku merasakan sendiri mereka hadir seketika melalui satu perantara, sekaligus pembicara dan pendengar hebat.
Yang masih slalu terngiang "Jangan terlalu memposisikan dirimu untuk diriya. Sosok wanita lebih baik menunggu bagaimana respect seorang pria terhadapmu. Karena Tuhan bisa kapan saja menyampaikan dan menerjunkan pangeran hati yang kelak meminangmu. Posisikan diri tidak untuk memilikinya hanya sebatas saat ini, karena jika itu yang ada dipikiranmu maka itulah sebatas hawa nafsu setan. Perpatut dirimu untuk lebih mengenal sosoknya tidak hanya berdasarkan cover, namun lihat dirinya dari segala sisi. Pantaskah dirinya untuk kita? Dan pantaskah kita untuk dirinya?"
-Kesimpulan 3 insan yang sangat memikirkan masa depan-
0 komentar:
Posting Komentar