Dipertemukan oleh RencanaNya
Hai.
Hai.
Satu sama lain saling menyapa.
Mungkin senyummu tumbuh, demikian pula aku.
Dua setengah bulan menjalin obrolan ringan, bahkan sangat ringan.
Jauh lebih ringan dari obrolan seorang teman yang sebatas teman.
Entah apa yang membuatku bergantung pada kehadiranmu.
Sama halnya denganmu yang selalu ingin adaku tiap senja menghitam.
Handphone-ku pertama kalinya berdering.
Sebelumnya kamu minta izin untuk menghubungiku via suara.
Aku mengiyakan.
Masih pada obrolan amat ringan, namun rasanya saat itu menjadi 1 tingkat lebih berbobot.
Bukan berarti menjadi serius, hanya saja menjadi lebih menyatu.
Ya, ringan dan menyatu. Dua kata yang pas menurutku.
Canda tawa pun menyelimuti pembicaraan perdana kita secara lebih nyata.
Beberapa hari kemudian...
Obrolan ringan-menyatu berubah menjadi obrolan yang menurutku berkualitas.
Topik yang sama ketika ku bersama 2 sahabat terdekatku.
KEHIDUPAN dan SUDUT PANDANG.
Nyamanku mulai tumbuh padamu. Tapi hanya sebatas nyaman, tidak pakai hati.
Hatiku? Entah masih tertutup logika yang amat pekat.
Nyamanku masih sebatas itu. Nyaman yang berlogika.
*Terhening
.......Beberapa bulan berselang.......
Rasaku semakin tak nyaman dan berbagai penyesalan pun tiba.
CUKUP. Sudah sampai disini perkenalan dan komunikasi kita.
Selamat Tinggal Masa Lalu 2015.
0 komentar:
Posting Komentar